HMPSMahasiswa

Untuk Apa Mahasiswa Berorganisasi?

Melihat fenomena yang sedang ramai diperbincangkan mahasiswa di sosial media terkait organisasi sungguh membuat senyum masam muncul di wajah saya. Di sana banyak orang yang tidak mengikuti organisasi apapun, tapi skeptis dengan orang-orang yang beroganisasi. Lalu mereka bersembunyi di balik kalimat:

“Halah, ikut organisasi belum tentu dapat kerja!”

“Ngapain ikut organisasi? jaman sekarang HRD ga pernah nanyain riwayat organisasi!”

“Inget ya syarat lulus yaitu skripsi yang ada di transkip nilai. Bukan di sertifikat organisasi kalian!”

(Komentar dari beberapa netizen tiktok)

Mungkin pola pikir seperti itu harus segera diubah, karena sejatinya organisasi memang bukan wadah untuk mencari pekerjaan atau bahkan berharap imbalan berupa materi atas apa yang sudah dilakukan. Tetapi organisasi merupakan wadah untuk mengembangkan kemampuan diri, kepribadian, melatih kerjasama dalam tim, dan mempersiapkan mental yang kuat di masa depan.

Dalam berorganisasi tujuan masing-masing orang berbeda. Ada yang sekadar ingin kumpul-kumpul, eksistensi diri, cari pengalaman dll. Idealnya kita berpikir: jangan mencari apa yang organisasi berikan kepada kita, tapi apa yang bisa kita kembangkan di organisasi.

Make it simple. Kalau memang organisasi tidak mempermudah untuk mencari pekerjaan di masa depan, setidaknya kita mau pelajari hal baru. Setidaknya kita bisa satu langkah lebih berkembang. Singkatnya, mau belajar. Sama seperti kita belajar ketika kelas sedang berlangsung. Bedanya, bagi organisatoris, kita bisa belajar secara teori dan juga dipraktikkan secara langsung di organisasi. Memang, mengikuti organisasi pasti melelahkan dan belum tentu menjamin masa depan. Namun, di balik itu, kita bisa menjalin relasi dengan banyak orang penting, dengan instansi-instansi besar, dengan teman beda kampus dll. Di organisasi kita belajar public speaking, melatih diri untuk tetap confidence, dan juga melihat daya saing orang lain yang bisa kita jadikan modal untuk masa depan yang persaingannya makin ketat.

Opini-opini negatif terhadap mahasiswa yang mengikuti organisasi timbul dari cara pandang yang keliru soal organisasi. Mungkin mereka pernah melihat mahasiswa berorganisasi namun tidak sesuai dengan ekspektasi yang diharapkan. Melihat permasalahan dari satu organisasi, lalu memukul rata bahwa semua oganisasi melakukan hal yang sama. Jika benar begitu, itu kesimpulan yang buruk.

Setiap raga memiliki rasa dan pikirannya masing-masing. Saya dan kalian tidak bisa memaksa kehendak setiap manusia untuk melakukan hal yang sesuai dengan apa yang kita harapkan, namun biarkanlah mereka melakukan hal sesuai apa yang mereka harapkan. Cukup dengan saling menghargai tanpa saling menjatuhkan, karena impian setiap insan itu sama indahnya. Jika dalam beragama kita bisa bertoleransi, kenapa soal organisasi kita ribut? Let’s respect everyone else’s decisions on themselves.

Teruntuk teman-teman yang sedang berproses dalam sebuah komunitas atau organisasi, tetap lakukan hal terbaik atas diri kalian dan semoga amanah organisasi yang diemban berjalan dengan baik. Tidak usah mendengarkan mereka yang tidak sejalan, tapi jangan sampai menutup telinga. Cukup menjadi bahan koreksi diri dan kembali bangkit. Tenang, masa depan yang baik pasti akan datang kepada mereka yang memiliki integritas dan attitude yang baik. Dosen saya pernah bilang, mahasiswa yang baik hendaknya memiliki attitude, skill, knowledge dan networking.

Dan untuk teman-teman yang tidak beroganisasi, tetap semangat menjalani kehidupan. Lakukan apapun yang kalian inginkan, dan semoga apapun yang kalian lakukan dapat berbalik jadi kebaikan untuk kalian. (Ririn Desi Fitriyani)

Leave a Reply

Your email address will not be published.